Sahabat FLP Jepang, Teman Maya Yang Kompak
Sekarang jaman teknologi, apapun menjadi mudah dikerjakan. Tak perlu ruang, meja, kursi untuk duduk bersama mengerjakan sesuatu. Cukup di depan komputer, di rumah masing-masing, sebuah pertemuan bisa dilangsungkan.
Itulah yang dilakukan Forum Lingkar Pena Jepang, sebuah perkumpulan penulis yang sedang bermukin di Jepang. Hampir semua anggotanya belum pernah bertemu muka. Saya yang sudah lima tahun bergabung, hanya pernah berjumpa dengan beberapa orang saja. Namun walaupun tak pernah berjumpa, ikatan dunia maya ini begitu indah dan erat. Kami kompak bergandeng tangan menghasilkan karya. Berangkat dari keinginan yang sama, menghasilkan sesuatu untuk ummat. Satu hati, satu visi, satu karya.
Adalah sebuah keajaiban, suatu perkumpulan yang tak pernah saling mengenal, tak pernah saling berjumpa akhirnya menghasilkan karya bersama. Bukan hanya satu kali saja, namun sudah berkali-kali kumpulan naskah telah terkumpul dari FLP Jepang. Dalam usianya yang masih sangat muda, FLP Jepang telah menghasilkan banyak karya bersama,
1. Sakura Project 1. Inilah pertama kali FLP Jepang mengumpulkan karya bersama yaitu di tahun 2004. SP 1 merupakan kumpulan kisah hikmah dari Jepang akhirnya menjadi sebuah buku berjudul: Getar Asa Di Negeri Sakura.
2. Ayunan Langkah di Negeri Gempa, Kisah mahasiswa di Jepang.
3. Sakura Project 3 yang merupakan kumpulan cerpen berjudul: Sakura Mekar di Padang Salju yang diterbitkan Azka Media
4. Antalogi Ibu, kisah-kisah menggetarkan tentang Ibu yang akhirnya menjadi sebuah buku berjudul: Kunang-Kunang dan Bidadari yang diterbitkan Erlangga
5. Antalogi Ramadhan, kisah-kisah Ramadhan di Jepang yang akhirnya menjadi sebuah buku berjudul: Ramadhan Tiba, Saatnya Wisata Kuliner terbitan Erlangga
6. Novel bersama yang berjudul: The Adventure Of Sir Luck Helm terbitan Sinergi
7. Kumpulan kisah mualaf Jepang yang akhirnya menjadi buku berjudul: Hikari No Michi, LPPH
Dan beberapa naskah yang belum diterbitkan seperti Antalogi Keluarga Muslim yang rencananya diberi judul: Menjadi Bunda di Negeri Sakura. Selain itu di FLP Jepang telah menelurkan penulis-penulis berbakat semisal Aan Wulandari yang telah menghasilkan banyak karya. Seriyawati dan Lizsa Anggraeni yang berkolaborasi membuat buku. Beberapa nama juga sering menghiasi media online semisal Eramuslim. Juga lahirlah saya, si Tethy Ezokanzo ^-^
Benar adanya, Ezokanzo lahir dari rahim FLP Jepang. Saya yang semula tak pernah menulis bahkan tak pernah ada niatan menulis jadi tergelitik untuk berkarya. Semula saya hanya bergabung karena ketertarikan utak-atik website namun akhirnya “terjebak” dengan manis. Saya menjadi terperangkap dalam candu menulis. Ingin terus menulis karena pompaan semangat dari teman-teman FLP Jepang.
Di FLP Jepang juga saya bertemu sahabat-sahabat luar biasa. Astarina Laya, yang rajin chatting membahas seputar php, design web, dan seabrek script rumit. Yang kemudian tanpa disangka berjumpa di Tokyo. Perjumpaan yang sangat indah, ibarat dua sahabat yang lama tak bersua. Namun sebenarnya itulah kali pertma kami berjumpa. Tak ada kecanggungan, kami akrab bagaikan sudah sering bertemu saja.
Mbak Aan yang kemudian menjadi patner menulis. Ratusan email terlayang diantara kami, ratusan sms berisi lontaran ide dan pompaan semangat. Sampai akhirnya kami bisa menulis buku bersama: Komar 3 – Ilmuwan Aneh terbitan Erlangga For Kids serta beberapa naskah lain hasil kolaborasi berdua. Kami begitu akrab, padahal tak pernah sekalipun berjumpa!
Bunda Rose Nakamura, yang menyengaja dari Fukuoka ke Bandung. Masya Allah akhirnya kami dipertemukan. Indah rasanya menatap wajah sahabat yang selama ini saling mendukung.
Lalu Mbak Seri, yang ternyata selembut emailnya. Beliau dari Nagoya ke Semarang, namun menyempatkan mampir Bandung untuk berjumpa.
Irma, guru yang cerdas. Nesia yang selalu inspiratif. Bainah Dewi, mbakyu Ge yang lucu, ternyata telah menghasilkan banyak buku. Dan tak terbilang banyak sahabat saya temukan disana. Sahabat tempat bertanya, sahabat tempat dimintai pendapat, sahabat yang tak segan berbagi ilmu, sahabat yang tak hanya bisa memuji namun juga tak segan mengkritik. Mengingatkan jika kita salah. Mendukung jika kita maju. Mendorong jika kita lemah.
Inilah rahasianya kenapa walaupun tak pernah berjumpa namun bisa menghasilkan karya bersama. Hati… yah hati kami telah terikat oleh yang namanya cinta. Karena cinta kami berbagi, karena cinta kami saling mengisi, karena cinta kami mengingatkan, karena cinta kami mengkritik, cinta yang membangun bukan cinta yang membutakan. Semoga cinta ini terus terjalin di Rumah Cinta FLP Jepang.
(catatan Tethy Ezokanzo)


