Print

Reportase Workshop Santai Kepenulisan Muslim Fukuoka Bersama Asma Nadia

Assalamu’alaikum wr.wb,

Dear keluarga besar Muslim Fukuoka, FLP Jepang at Fukuoka and all friends,

Acara terusan dari Kyoto yang kami sebut: “Workshop santai kepenulisan Muslim Fukuoka bersama Asma Nadia dan Clara” pada tanggal 23 December 2009, Alhamdulillah telah sukses terlaksana.

Senyum terlihat mengembang di semua bibir, sejak acara belum dibuka hingga sampai kepada inti acara workshop berlangsung. Maklum banyak ibu-ibu muda, bapak-bapak muda serta adik-adik mahasiswa itu tidak sulit membuat suasana menjadi ramai. Dengan komento lucu yang spontan terlepas: ‘geerr…’ tawa kami sering terdengar. Ibaratnya ‘biarlah Fukuoka dingin menggigit, tapi kehangatan hati tetap berlaju.’

 

Pemateri pertama adalah: Mb Asma, penulis best seller terkenal di Indonesia. Dengan ‘pesona’ yang memang sudah dimilikinya, ia mampu menyedot hadirin untuk mendengar cerita seputar kepenulisan dan trik penerbitan sebuah buku.

Film Emak Naik Haji yang sedang hot pun tak lepas dibahas, berkat sentilan Mb Hanik yang jeli melihat sisi idealis penulis dan visual film dari sudut pandang batasan yang berbeda. Tanya jawab memang amat singkat, semua akhirnya harus memaklumi keterbatasan waktu. Mb Asma memberikan peluang terbuka untuk penulis bergabung di blog pembaca asmanadia atau email langsung di asmanadia(at)gmail.com.

Nara sumber kedua adalah: Mb Clara dari Media online. Beliau membahas bagaimana kerja media yang bertanggung jawab (ideal). Waktu untuk ex reporter itu memang sedikit sekali, tapi yakin insya Allah tetap mempunyai hasil sharing ilmu yang banyak untuk hadirin. Biasa, kaum adam paling banyak ingin tahu perihal jurnalistik. Bahkan selingan ‘Bad News is Good News, Good Income’, menjadi sedikit ‘cemilan’ yang gurih di akhir diskusi jurnalistik. “Mau serius lempar berita?” Boleh email kepada Clara: clara(at)mediaindonesia.com. Beliau akan ‘bantu publish’ :)

Secara singkat terangkum hasil temu santai kemarin di bawah ini:

:Sharing dari Mb Asma:

1). Sudah diketahui umum, bahwa menulis bukan bersumber dari bakat dan keberuntungan saja. Dua faktor itu bisa dibilang berkisar 5%, bila diaktualisasikan dengan angka. Faktor terbesar bagaimana bisa menjadi penulis yang baik adalah hasil kerja keras si penulis itu sendiri, yakni bisa dibilang 95% dalam hitungan. Maka potensi
diri itulah yang harus dicari, dikembangkan sesuai dengan kegemaran. Sehingga ketika menulis menjadi asyik, terhibur seperti layaknya bertamasya.

2). Dengan mengikuti workshop dan setor tulisan pada workshop itu, menjadi salah satu penyulut semangat memperbaiki diri dalam menulis. Mb Asma sendiri mengatakan ia merasakan betapa ia tidak ada apa-apanya ketika pernah mengikuti workshop penulis Asia Tenggara. Rajinlah mengikuti workshop dan lomba menulis.

3). Tips untuk penulis awal agar menulis cerita tidak berantakan, ide cerita tidak liar kemana-mana, adalah dengan membangun kerangka karangan terlebih dahulu. Tentukan dengan runut. Mulailah menulis dengan ‘liar’ lalu baru terakhir dibaca dan diedit, berulang kali.

4). Sebagian ruang potensial yang masih digemari akhir-akhir ini adalah: – Novel tebal. Semakin tebal, semakin laris. -Kisah sejati yang memberi inspirasi masih digemari. – Fiksi Parodi masih dicari.

5). Membangun penerbitan sendiri bisa saja dilaksanakan dan bagus untuk mempertahankan idealis penulis. Akan tetapi pelajari dahulu dari tahap satu, yakni dengan menulis. Menyetor tulisan ke penerbit lain, baik sekali untuk mengetahui tolok ukur kemampuan diri. Diharapkan kelak ada penerbit global yang handal, yang peduli dengan syiar religi -islam-, moral dan etika yang handal (+ kuat modal).

6). Film Emak Ingin Naik Haji bisa dibilang sukses di tengah gempuran film murahan. Untuk perfilman yang akan datang insya Allah bisa lebih baik lagi. Meminta dukungan masyarakat muslim untuk mau membangun kemajuan seni di negeri sendiri. Dalam artian dakwah bisa dilakukan di mana-mana (media menulis, skenario dan film). Bila animo masyarakat akan film bermutu :religi, etika dan moral, itu tinggi. Maka para pemilik modal raksasa akan mau tak mau ikut memberikan modalnya -memajukan syiar Islam- secara tak langsung. Otomatis film religi bermutu tinggi pun akan berkembang hidup dan menguasai pasar Indonesia. (*)

:Sharing dari Mb Clara:

1). Berita harus bertanggung jawab. Ada bukti dan tidak mendobrak ruang pribadi yang tidak boleh seharusnya diberitakan/disiarkan.

2). Memulai menulis dari apa saja yang terjadi di sekitar lingkungan kita. Siapa saja bisa menjadi penulis, bisa menjadi jurnalis. Bahkan seseorang yang jebolan fak. jurnalistik, belum tentu bisa menulis. Bahkan tidak bisa menulis berita yang dahulu menjadi mata kuliahnya.

3). Media online membuka ruang luas untuk para mahasiswa yang mempunyai hasil riset hulu, agar bisa berbagi tulisan di kolom riset. Untuk bisa membagi sekedar ilmu bocoran riset awal, agar bisa dipelajari oleh penerus di Indonesia sendiri. Tidak melulu menjadi produk luar. Padahal hasil riset yang telah jadi di luar negeri, banyak sekali mahasiswa/profesor yang mencipta adalah bangsa Indonesia.

4). Ruang lain yang bisa diisi oleh para penulis dari Jepang adalah: -ruang arsitektur, surat dari osaka, kuliner dan tema lingkungan di sekitar penulis berada.

5). Ruang pribadi (kamar, privasi diri) sebenarnya tidak boleh diberitakan ke luar tanpa batas. Ada norma jurnalistik yang sering dilanggar oleh pemberita. Sekali lagi moral harus dipegang teguh bagi jurnalis.

Demikian hasil laporan singkat dari Obrolan santai bersama Asma Nadia dan Clara di Fukuoka. Mohon maaf bila tulisan tidak mencangkup semua bahasan dan ada kekurangan dengar tangkap isi materi dan diskusi.

Akhir kata terimakasih dan selamat traveling ke lain kota, sukses selalu untuk Asma Nadia dan Clara Rondonuwu. Juga sukses selalu untuk para riseters, mahasiswa, ibu, bapak dan FLP Jepang, di Fukuoka.

Salam sayang dan cinta,
Rose Firdauzi Nakamura – Yukuhashi, Fukuoka.